5 Alasan Sebaiknya Orang Tak Memberi Tahu Impian dan Cita-Citanya

Posted on

Kalian mungkin pernah ngeshare atau memberi tahu teman kalau kalian menginginkan sesuatu. Misalnya, "Aku pengen travelling ke Lombok!" atau "Aku ingin mendaki Gunung Semeru!" Bisa juga berbagi cita-cita. Contohnya, bercita-cita jadi dokter, polisi, tentara, pengacara, dan lain-lain. Tapi lihat hasilnya, apakah impian atau cita-cita kalian tercapai?

Berbagi Impian dan Cita-Cita

Penelitian menunjukkan bahwa memberi tahu impian atau cita-cita ke orang lain sebaiknya pilih-pilih. Penelitian tentang berbagi impian dan motivasi ini dilakukan oleh Peter Gollwitzer dari NYU. Jadi ini bukan cuma ngarang aja ya. Setidaknya ada 5 kesimpulan yang bisa diambil.

Pertama, pujian memberikan efek perasaan sudah sukses, padahal belum.

Ketika orang berbagi tentang sebuah goal, misalnya menulis novel, biasanya orang akan mendapatkan pujian. Bentuk pujiannya bermacam-macam. Biasanya kayak gini, "Wah keren banget impianmu, nulis novel. Aku liat sih kamu emang punya bakat. Aku yakin kamu bisa jadi penerus Habiburrahman El Shirazy."

Setelah mendapat pujian seperti itu, orang akan merasa sudah sukses. Padahal sebenernya dia mungkin baru menulis beberapa kata saja. Pujian itu membuatnya merasa sudah menerbitkan novel sehingga dia tidak melakukan apa-apa lagi.

Kedua, kritik memberikan efek perasaan sudah gagal, padahal belum.

Ini kebalikan dari kesimpulan yang pertama. Ketika orang berbagi cita-cita, orang malah mengkritik duluan. Contohnya nih, "Halah kamu itu gak punya bakat blas jadi penyanyi." atau "Kamu itu dari keluarga miskin, mana mungkin jadi dokter." atau "Badanmu kan cebol begitu, nggak mungkin keterima jadi polisi apa tentara." Sadis memang.

Setelah mendapatkan kritikan seperti itu, orang akan merasa sudah gagal. Kritikan itu membuatnya merasa sudah berusaha untuk menggapai cita-citanya tapi gagal mengakibatkan dia berhenti berusaha. Padahal sebenarnya dia belum melakukan apa-apa.

Ketiga, saran memberikan efek yang membangung.

Inilah sisi positif dari memberi tahu impian ke orang lain, yaitu dikasih saran. Biasanya kayak gini, "Tulisan kamu bagus, kalo kamu mau sedikit bekerja keras, kamu bisa nerbitin novel." atau "Kamu punya bakat nyanyi, kalo kamu banyak latihan vokal, kamu pasti bisa jadi artis terkenal." atau "Kamu memang dari keluarga miskin, untuk itu kamu harus giat belajar biar bisa dapat beasiswa kedotkeran." Enak kan?

Tapi sayangnya tidak semua orang memberikan saran yang membangun seperti itu. Jadi, sebaiknya memilih orang yang tepat untuk ngeshare impian atau cita-cita. Kalo orangnya suka memuji atau mengkritik, lebih baik cari orang lain. Tapi kalo orangnya suka ngasih saran, bisa dijadikan tempat sharing.

Keempat, balik lagi ke yang punya cita-cita.

Sebenarnya semua kembali lagi ke orang yang punya impian. Misalnya untuk orang yang baru memulai sesuatu sebaiknya dipuji. Pujian akan memberinya semangat untuk berproses. Lalu untuk orang yang sedang berproses sebaiknya dikasih saran. Saran yang membangun akan tetap membuatnya berproses menjadi lebih baik lagi. Kemudian untuk orang yang sudah berproses lama sebaiknya dikasih kritik. Supaya tidak merasa sudah berhasil dan biasa-biasa saja, kritikan membuat orang menuju ke titik terbaik. Hingga pada akhirnya cita-cita atau tujuannya berhasil dicapai. Selamat!

Kelima, kesimpulan dari kesimpulan.

Semuanya jadi balik lagi ke orangnya. Antara orang yang ngeshare impian dan orang yang memberikan feedback. Posisi kalian sekarang di mana? Apakah baru mulai, sedang berproses, atau sudah lama berproses? Orang yang menjadi tempat berbagi gimana? Apakah suka memberi pujian, suka memberi saran, atau suka memberi kritik? Dengan kriteria yang sudah kutulis tadi sebaiknya ambil yang cocok. Sekian dan terima kasur.