Sang Pelamun

Posted on

Saya pertama kali membaca cerita ini saat saya masih SD kelas rendahan. Cerita ini ada di komik hadiah beli susu bubuk kalo gak salah. Tentu saja waktu kecil saya tidak mengerti hikmah di balik cerita ini. Cuma seneng liatin gambarnya aja. Sekarang saya sudah gede jadi dikit-dikit bisa lah ambil hikmahnya.

Anjing Melamun

Diceritakan ada seorang anak manusia bernama Didi. Didi ini malas mandi. Dia keturunan penanam padi. Bapaknya namanya Budi. Kakeknya namanya Sapardi. Kalau merencanakan sesuatu ujungnya tidak jadi. Tapi dia tidak suka bermain judi. Cuma malas mandi.

Pekerjaan Padi eh maksudnya Didi setiap harinya adalah melamun. Apa saja bisa dijadikan bahan lamunan. Termasuk tetangganya yang saat ini sedang mengantarkan susu. Maklum, tetangganya adalah juragan sapi perah. Hampir setiap hari susunya tersisa banyak. Karena baik hati dan suka mengikuti sunnah nabi, maka tetangganya itu berbagi ke Budi eh maksudnya Didi.

Budi eh maksudnya Didi tentu saja senang diberi susu setiap hari. Dia menerima dengan senang hati. Bisa menambah gizi. Bisa menambah tinggi. Tidak perlu bayar lagi. Hidup Sapardi eh maksudnya Budi eh maksudnya Didi nikmat sekali.

Sesaat setelah menerima susu dari tetangganya, tetangga yang lain lewat. Tetangga yang lain membawa ayam. Jadi pun eh maksudnya Didi pun bertanya kepada tetangganya yang lain itu.

Ayam

“Mak Cik, hendak dibawa ke mana ayam engkau itu?” tanya Judi eh maksudnya Didi.

“Mau dibawa ke pasar. Hendak aku jual.” jawab Mak Cik tetangga yang lain.

“Bagaimana kalau kita tukar saja dengan susu ini?” tanya Didi lagi. Kali ini gak salah. Hehe.

“Maaf tidak bisa. Aku butuhnya uang.” jawab Mak Cik tetangga yang lain.

“Bisa Mak Cik. Kau jual saja susu ini ke pasar.” kata Didi sambil tersenyum. Kali ini gak salah lagi. Hehe.

“Bolehlah kalau begitu.” kata Mak Cik tetangga yang lain yang baik hatinya juga.

“Terimakasih Mak Cik!” teriak Didi kegirangan.

Semenjak saat itu Didi merawat ayam pertukaran itu. Beruntung ayamnya betina petelur dan dapat dierami pula. Maka semenjak itu bertambah pula lah ayam Si Didi. Didi pun berubah menjadi seorang peternak ayam sejati. Beternak ayam sampe mati.

Awalnya Didi hanya mempunyai satu kandang ayam. Tapi karena fokus dan tekun, dia akhirnya punya banyak kandang ayam. Dia sudah menjadi peternak ayam yang sukses. Hingga suatu saat ada kejadian yang mengubah hidupnya lagi. Dia melihat ada website yang berjanji bisa mengubah hidupnya. Website itu menjanjikan penghasilan melimpah hanya dengan internet. Sayangnya teknologi komputer belum ada pada masa itu. Penulisnya lagi stress.

Dia melihat Mak Cik yang menjual ayam kini dia menjual kambing. Melihat sepasang kambing siap beranak, Didi kegirangan. Bukan, dia tidak mengidap penyakit aneh. Dia ingin menukar ayam-ayamnya dengan kambing Mak Cik. Beruntung, Mak Cik mau menukar kambingnya dengan ayam berkandang-kandang. Maka kandang ayam tadi berubahlah menjadi kandang kambing. Didi berubah dari peternak ayam sejati menjadi peternak kambing sejati. Beternak kambing sampe mati.

Sepasang Kambing

Awalnya hanya sepasang. Didi terus gigih merawat dan memberi rumput terbaik dari Selandia Baru untuk kambingnya. Akhirnya kambing Didi sekarang berjumlah puluhan. Dia sudah menjadi peternak kambing sukses. Hingga suatu saat ada kejadian yang mengubah hidupnya lagi. Mak Cik tetangganya lewat lagi. Kali ini membawa sapi. Sepasang sapi perah yang siap jual dengan harga tinggi. Beruntung lagi, Mak Cik mau menukar sapinya dengan puluhan kambing Didi. Didi berubah lagi dari peternak kambing sejati menjadi peternak sapi sejati. Beternak kambing eh maksudnya sapi sampe mati.

Sapi Perah

Karena ini cerita fiksi. Terserah penulis mau menulis apa. Didi sukses lagi. Sepertinya tidak ada kegagalan sama sekali. Tidak ada wabah flu burung. Tidak ada wabah antrax. Tidak ada hujan badai apalagi tsunami. Didi sukses dengan mudah. Terkadang memang butuh keberuntungan yang banyak untuk sukses. Dan itu datangnya dari Tuhan.

Awalnya hanya sepasang sapi. Didi yang beruntung bisa mendapat rumput kualitas terbaik dari Selandia Baru bisa mengembangkan kandangnya. Kini dia punya banyak sapi. Sapi berkualitas untuk susu yang berkualitas. Begitu mottonya sekarang. Hingga lagi-lagi ada kejadian yang mengubah hidup Didi. Mak Cik tetangganya lewat dengan membawa kuda untuk di bawa ke pasar. Didi menukar sapi-sapinya dengan kuda Mak Cik.

Saat hendak menaiki kudanya. Tiba-tiba…

Ketumprang!

Dia menendang panci susu. Ternyata semua kesuksesannya hanyalah lamunan. Semuanya itu palsu dan semu belaka. Dia kira itu footstep kuda. Ternyata panci susu yang masih dibawa Mak Cik tetangganya. Gegerlah seisi kampung mendengar ulah Didi sang pelamun. Begitulah Didi. Kebanyakan melamun. NATO. Not Action Thinking Only. Seperti manusia kebanyakan.

Gambar Gravatar
Kalo pengen kenalan bisa add Facebook. Kalo pengen punya website bisa pesen di Jangka Web. Follow @masjangka di twitter, ask.fm, dan instagram!