Ikan Pencari Air

Posted on

Di sebuah danau. Hiduplah bermacam-macam ikan. Ada satu ikan yang unik. Sebut saja namanya Nimu. Nimu ini sangat disayang oleh ayahnya. Karena hanya Nimu yang selamat dari serangan predator. Tapi kisah ini bukan tentang perjalanan ayah ikan mencari anak ikan. Ini kisah perjalanan anak ikan itu sendiri.

Ikan Badut

Nimu tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang manusia. Yang satu manusia galau. Yang satu manusia bijak. Orang bijak tadi membicarakan tentang air. Air yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Lalu Nimu penasaran. Di mana dia bisa mendapatkan air yang sangat penting itu.

Ikan Badut dan Temannya

Nimu memulai pencariaannya dengan bertanya pada teman-temannya.

“Ada yang tau nggak air itu di mana?” tanya Nimu.
“Mungkin ada di istana.” kata temannya.
“Di istana gak ada air tau.” kata temannya yang satunya.
“Ada.” kata temannya.
“Mungkin ada di saku celanaku. Bentar tak liat.” kata temannya yang duanya.
“Mana ada? Air tuh adanya di sini.” kata temannya yang tiganya sambil menunjuk dadanya.
“Itu bukan air! Itu iman.” kata temannya yang satunya.
“Itu bukan iman! Itu nasionalisme.” kata temannya yang duanya.

Nimu akhirnya meninggalkan teman-temannya yang berdebat tentang iman dan nasionalisme. Nimu juga tidak tau apa itu iman dan nasionalisme. Nimu kemudian melanjutkan perjalanan dan menemui bapak-bapak tukang tambal ban.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Pak boleh nanya nggak?” tanya Nimu sopan.
“Boleh. Mau nanya apa?” kata tukang tambal ban.
“Ehmmm. Bapak tau nggak di mana itu air?” tanya Nimu agak malu.
“Hahahahaha. Kamu nggak tau di mana itu air?” kata tukang tambal ban menertawakan Nimu.
“Eng… enggak tau pak.” jawab Nimu malu.
“Beneran gak tau? Hahahahaha.” kata tukang tambal ban.
“Beneran pak. Memangnya bapak tau?” tanya Nimu.
“Hahahahaha. Saya juga gak tau.” kata tukang tambal ban.

Ternyata Nimu salah. Nimu tidak bertanya pada tukang tambal ban. Nimu bertanya pada orang gila.

Nimu kembali melanjutkan perjalanan spiritualnya. Iya menungganggi kuda menyusuri gurun sahara, gurun gobi, dan gurun lainnya untuk menemukan di mana air itu. Iya lalu bertemu monyet, babi, dan manusia yang kemudian menjadi muridnya. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke barat untuk mendapatkan kitab suci.

Bentar…

Bentar…

Sepertinya ini salah cerita.

Nimu tidak menunggangi kuda dan menyusuri gurun. Nimu akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Pulang ke rumah. Mungkin pencariannya selama ini tidak ditemukan diluaran sana. Mungkin ia bisa menemukan di rumahnya sendiri. Tempat yang selama ini dia tinggali.

Di keluarga Nimu dibiasakan untuk makan malam bersama. Di akhir makan malam biasanya mereka membahas apa saja. Sangat jarang ada keluarga yang membiasakan makan malam bersama. Bahkan ketika ada keluarga yang makan malam bersama, kemudian diekspose. Diberitakan kemana-mana sebagai kampanye terselubung.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di makan malam itu Nimu menanyakan di mana air berada. Kemudian ayahnya menjawab dengan bijak.

“Air itu sebenarnya ada di sekelilingmu. Kamu tidak perlu mencarinya. Kamu ini seperti manusia di luaran sana. Mereka mencari cinta, kedamaian, dan kebahagiaan. Sebenarnya semua itu sudah ada sekeliling mereka. Tinggal mereka mau menyadarinya atau tidak.” kata ayah Nimu.

Gambar Gravatar
Kalo pengen kenalan bisa add Facebook. Kalo pengen punya website bisa pesen di Jangka Web. Follow @masjangka di twitter, ask.fm, dan instagram!