Anak dan Bapak dengan Kuda Poni Mereka

Posted on

Kalau tidak salah saya pertama mendengar cerita ini saat saya masih SD pada sebuah khotbah jumat. Lalu saya mendengar cerita ini lagi tapi saya lupa kapan. Dan pada saat mendengar cerita ini, saya sama sekali tidak tau apa maksud dari cerita ini. Mudah-mudahan kalian tidak sebodoh saya.

Cerita motivasi ini berkisah tentang seorang bapak, anak, dan seekor kuda poni. Aslinya sih kedelai eh keledai. Tapi jaman sekarang susah ngeliat keledai jadi saya ganti kuda poni aja. Tapi kayaknya kuda poni juga susah diliat jaman sekarang. Tapi ada lho masyarakat di Nusa Tenggara yang dari duli kenal kuda poni.

kuda poni

Lanjut…

Cerita ini dimulai ketika sang bapak dan sang anak pulang dari membeli kuda poni baru. Karena masih baru, kuda poni ini tidak ditunggangi. Mereka hanya menuntunnya pulang ke rumah. Mereka mendapat banyak respon ketika perjalanan pulang.

Saat melewati kampung daun, ada segerombolan anak muda mencemooh mereka. Sebut saja Narto (nama samaran), dia adalah ketua gerombolan anak muda tadi. Narto mengeluarkan kata-kata yang lumayan sadis.

“Ada kuda kok nggak ditunggangi? Otaknya nggak dipake apa ya? Jalan kaki kan capek? Dasar orang kampung!” kata Narto yang orang kampung juga.

Mendengar kata-kata Narto, sang bapak pun menunggangi kuda poni tersebut. Orang-orang di kampung daun pun terdiam. Bapak dan anak tadi pun melanjutkan perlanan. Tapi hal tidak mengenakkan terjadi lagi saat melewati kampung gajah.

Kebetulan di kampung gajah sedang ada acara kumpul-kumpul di gerobak tukang sayur. Tukang sayur sih adem-ayem saja. Tapi ibu-ibu yang sedang ada acara tadi memberikan komentar tidak sedap pada sang bapak.

“Dasar orang tua egois! Dia enak-enakan naik kuda, eh anaknya disuruh jalan kaki. Hatinya udah dibuang kali ya?” kata ibu-ibu yang tiap hari makan ati.

Sang bapak tidak terima dikatakan egois. Dia segera turun dan menyuruh anaknya untuk naik ke kuda. Melihat hal itu, orang-orang di kampung gajah pun segera menjadi biasa-biasa saja. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kampung mereka.

Di tengah jalan mereka bertemu dengan nenek-nenek cerewet. Nenek-nenek tadi mengeluarkan kata-kata tidak menyenangkan di hati sang anak.

“Dasar anak durhaka! Bapaknya capek jalan! Anaknya enak-enakan naik kuda! Kalau lo anak gue udah gue sumpahin jadi batu lo!” kata nenek-nenek berumur 18 tahun.

Sang anak segera turun dan meminta sang bapak untuk naik. Sang bapak juga memaksa sang anak naik. Sang bapak tidak mau dibilang egois. Akhirnya kuda poni mereka ditunggangi 2 orang. Dan mereka melanjutkan perjalanan.

Sampai di kampung arab, mereka menghadapi hal yang tidak mengenakkan lagi. Orang-orang di kampung arab menunjukkan wajah tidak senang. Salah satu dari mereka berteriak.

“Astaghfirullah! Tega sekali kalian menyiksa kuda poni kecil itu! Kalian telah berbuat dholim!” kata seorang arab berbulu kaki lebat dari kejauhan.

Mendengar hal itu mereka segera turun. Mereka bingung mau gimana. Anak yang naik, salah. Bapak yang naik, salah. Nggak dinaikin, salah. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggotong saja keledainya.

Perjalanan yang melelahkan pun terlewati. Padahal cuma dari pasar ke rumah. Akhirnya mereka sampai ke kampung mereka sendiri. Ternyata di kampungnya juga terjadi hal yang tidak mereka inginkan. Seisi kampung tertawa melihat mereka memanggul keledai.

Itulah kisah anak dan bapaknya yang baru saja membeli keledai.

Sejak kapan kuda poninya berubah jadi keledai?

kuda poni nyengir

Daripada bingung, mendingan saya tutup dengan sebuah kutipan saja.

“Saya tidak tahu kunci kesuksesan, tapi kunci menuju kegagalan adalah mencoba untuk menyenangkan semua orang.” – Bill Cosby

Salam Sukses Anti Galau Republik Indonesia!

Gambar Gravatar
Kalo pengen kenalan bisa add Facebook. Kalo pengen punya website bisa pesen di Jangka Web. Follow @masjangka di twitter, ask.fm, dan instagram!