Kompetisi Dua Penebang Pohon

Posted on

Di sebuah tempat yang jauh di sana. Sejauh masa lalu kita. Masa lalu aku dan kamu. Halah. Intinya jauh banget. Ada dua orang penebang pohon yang kesehariannya facebookan. Dan kalau udah facebookan jadi males. Males gerak. Males makan. Males mandi. Males nebang pohon tentunya. Tapi yang kita bahas bukan itu. Karena dua penebang pohon tadi nggak ada dan nggak pernah ada.

Penebang pohon yang akan saya ceritakan ini nggak suka facebookan karena memang nggak ada sinyalnya. Juga penetrasi alat komunikasi belum sampai. Apaan tuh penetrasi? Saya juga nggak tau. Yang saya tau mereka tinggal di daerah yang masih asri dan banyak pohon yang siap di tebang.

Kita sebut saja mereka Mawar dan Melati. Kenapa? Karena kalau Bawang Merah dan Bawang Putih sudah terlalu mainstream. Tapi kayaknya nama tadi kurang maco. Kita ganti yang lumayan maco aja. Kita sebut mereka Bejo dan Paijo.

Motivasi Penebang Pohon

Bejo dan Paijo merupakan sahabat dekat. Sahabat dekat belum tentu sahabat baik ya. Semuanya terjadi karena dulu Paijo merebut gebetan Bejo. Tapi ini tidak penting. Itu masa lalu mereka. Sekarang mereka mau move on. Mereka mau fokus ke pekerjaan mereka sekarang yaitu menebang pohon.

Suatu saat Paijo mengajak Bejo untuk berkompetisi. Bukan, ini bukan kompetisi rebutan cewek lagi. Itu masa lalu. Kompetisi sekarang adalah banyak-banyakan pohon yang ditebang. Siapa yang paling banyak menebang pohon, dia yang berhak menikah dengan bunga desa. Sama aja ya rebutan cewek?

Cerita Motivasi Penebang Pohon

Hari pertama kompetisi berlangsung seru. Bejo dan Paijo menebang pohon dengan semangat. Hari pertama berakhir dengan seimbang. Pohon yang ditebang Bejo dan Paijo berjumlah sama. Paijo merasa tertantang untuk mengalahkan Bejo.

Hari kedua kompetisi berlangsung lebih seru lagi. Paijo berangkat lebih awal dari biasanya, sedangkan Bejo tetap seperti biasa. Hari kedua tetap berakhir dengan seimbang. Di sini Paijo merasa heran. Tapi dia berpikir bahwa mungkin dirinya hanya kurang beruntung saja.

Hari ketiga kompetisi berlangsung lebih ketat. Paijo tidak hanya berangkat lebih awal dari biasanya, dia juga pulang menjadi lebih terlambat. Tapi anehnya pada hari ketiga ini tetap berakhir seimbang. Paijo mulai merasa gerah. Dia harus berusaha lebih keras lagi.

Hari keempat kompetisi berlangsung lebih ketat lagi. Paijo berangkat berangkat lebih awal dari lebih awal yang biasanya. Dia juga pulang lebih lambat dari lambat yang biasanya. Ternyata dia tidak pulang. Dia pingsan. Beruntung ada warga yang menemukannya dan dibawa pulang.

Saat sudah di rumah, Paijo kebingungan.

“Di mana aku?” kata Paijo kebingungan.

“Siapa aku?” kata Paijo kebingungan.

“Siapa penulis cerita ini?” kata Paijo ternyata kepo.

Penebang Pohon

Ternyata itu hanya mimpi. Paijo segera terbangung dan melihat Bejo berada di sampingnya. Paijo segera ingin menanyakan rasa penasarannya pada Bejo. Dia ingin segera menguak rahasia yang dimiliki Bejo. Apakah Bejo menggunakan ilmu kanuragan? Apakah Bejo menggunakan bantuan pasukan jin?

“Bej, kamu kok bisa menebang pohon segitu banyak? Padahal aku menghabiskan waktu lebih banyak dari kamu.” kata Paijo bertanya pada Bejo.

“Hehehe. Ya bisa lah Paij.” kata Bejo santai.

“Bisa gimana? Jelasin dong.” kata Paijo penasaran.

“Setiap hari aku memang tidak berangkat lebih awal, tapi aku mengasah peralatanku dulu.” kata Bejo.

“Owalah ternyata itu rahasiamu.” kata Paijo.

“Iya. Dengan peralatan yang terasah, aku jadi lebih mudah menebang pohon. Aku juga istirahat cukup. Jadinya bisa fokus dan kuat saat menebang pohon.” kata Bejo menjelaskan.

“Wah aku malah lupa. Aku terlalu nafsu buat nebang pohon. Seharusnya aku juga mengasah alatku dulu, aku juga harus istirahat.” kata Paijo.

Begitulah ceritanya kawan. Apakah happy ending kayak FTV?

Salam Semangat Anti Galau Republik Indonesia!

Gambar Gravatar
Kalo pengen kenalan bisa add Facebook. Kalo pengen punya website bisa pesen di Jangka Web. Follow @masjangka di twitter, ask.fm, dan instagram!